Mengenal Penyakit! Definisi, Gejala, dan Penyebab Bagi Pasien Skiatika

Kesehatan

sumber gambar: sehatq.com 

Definisi dari sciantica nerve pain atau skiatika adalah timbulnya rasa nyeri di daerah punggung bawah yang selanjutnya merambat ke pinggul, tungkai, bokong, sampai jari kaki, yaitu di sepanjang jalur saraf skiatik (sciatic nerve). Dikutip dari laman sehatq.com, awalnya saraf ini memiliki fungsi untuk mengendalikan otot pada kaki bagian bawah dan bagian belakang lutut; serta memberikan respon perasaan ke bagian telapak kaki, belakang paha, dan bawah kaki. Namun akibat ada kerusakan di saraf skiatik tersebut membuat seseorang menderita skiatika. Penyakit ini umumnya menyerang seseorang yang berusia 30 – 50 tahun.

Nyeri yang ditimbulkan oleh penyakit ini akan terasa sangat sakit dan tidak nyaman. Ternyata rasa nyeri kian meningkat apabila pasien mengalami batuk, bersin, dan duduk terlalu lama. Biasanya akan pulih dalam waktu 4 – 6 minggu atau bahkan bisa lebih lama. Selain rasa sakit tersebut, ada beberapa gejala lain dari skiatika adalah seperti yang di bawah ini:

  1. Tidak mampu mengendalikan BAK atau BAB (inkontinensia).
  2. Rasa sakit yang semakin memburuk dan menyiksa ketika bergerak.
  3. Mati rasa atau kebas, kaki merasa lemah di sepanjang jalur saraf skiatik. Bahkan lebih buruknya, pasien mengalami kelumpuhan.
  4. Merasakan sensasi tertusuk, diiringi dengan kesemutan amat sangat sakit di jari kaki atau punggung dan telapak kaki.

Penyebab terjadinya skiatika adalah akibat terjepitnya saraf skiatik. Umumnya terjadi karena beberapa hal sesuai kutipan dari laman internet alodokter.com, meliputi:

    1. Hernia nukleus pulposus, yaitu adanya pergeseran jaringan atau herniasi cakram tulang belakang dari lokasi sebenarnya hingga menekan saraf.
    2. Terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah.
    3. Sindrom piriformis, ialah adanya kejang pada otot piriformis.
    4. Adanya pertumbuhan tulang yang berlebihan pada tulang-tulang dalam tulang belakang (vertebrata).
    5. Terjadinya bone spurs, berarti terjadinya pengapuran tulang. Terlebih pada area tulang belakang.
    6. Tulang panggul patah.

 

  • Spondylolisthesis, adanya masalah akibat terjadi pergeseran pada salah satu bagian tulang belakang dari posisinya.

 

  1. Kehamilan.
  2. Saraf skiatik tertekan oleh tumbuhnya tumor.
  3. Stenosis spinal terjadinya penyempitan kanal tulang belakang yang menekan saraf.
  4. Sedang menderita beberapa penyakit, seperti diabetes dan tulang belakang pecah.

Semua orang pasti ingin sembuh dari penyakit yang dideritanya. Begitu juga bagi penderita penyakit ini. Pasien bertanya-tanya pengobatan apakah yang terbaik untuk dilakukan? Jika anda masih bingung, berikut akan diuraikan beberapa pilihan pengobatan yang dapat anda coba. Pengobatan skiatika adalah ringan. Artinya jika anda melakukan prosedur penyembuhan di rumah pun akan sembuh dalam beberapa minggu. Syaratnya ialah penyakit ini masih dalam golongan ringan. Berikut ada beberapa kombinasinya sesuai halodoc.com:

  1. Mengonsumsi obat pereda nyeri dengan obat antinyeri atau melakukan suntikan antiradang. Namun biasanya penggunaan suntikan dikurangi sebab peluang efek sampingnya lebih besar.
  2. Mengompres di daerah pinggang dengan air dingin atau hangat.
  3. Obat antiinflamasi, seperti pelemas otot (diazepam), antidepresan (amitriptyline), atau antikejang (pregabalin dan gabapentin).
  4. Membiasakan melakukan stretching atau latihan olahraga lainnya.
  5. Operasi di daerah tulang belakang, dilakukan ketika gangguan stiatika berhubungan dengan saraf. Terdapat dua jenis pembedahan, yaitu:
  • Laminektomi, melakukan pengangkatan jaringan yang menekan saraf dan menimbulkan rasa sakit dan laminektomi, operasi pengangkatan lamina (saraf tulang belakang yang dilindungi oleh bagian tulang belakang) 
  • Disektomi, yaitu pengangkatan apapun yang menekan saraf skiatik.

Meskipun penyakit ini dapat sembuh dengan melakukan penanganan mandiri tapi bukan berarti tidak akan terjadi masalah serius. Jika kondisi kesehatannya semakin serius akan menyebabkan kerusakan saraf secara permanen. Selain itu, akan timbul komplikasi seperti tungkai menjadi mati rasa dan lemah, kelumpuhan, nyeri kronis, serta organ usus besar dan kandunng kemih tidak mampu bekerja lagi.

 

Read More